Rabu, 14 Januari 2026

Ar-Risalah Al-Laduniyyah

 


Tentu, saya bisa menerjemahkan dokumen ini. File PDF ini sangat berharga karena berisi **dua kitab tasawuf** klasik dalam satu jilid:

1. 

**Ar-Risalah Al-Laduniyyah** karya **Imam Al-Ghazali** (Halaman 1–38).

2. 

**Risalah fi Kunhi Ma La Budda lil-Murid Minhu** (Risalah tentang Hal yang Tidak Boleh Tidak bagi Seorang Murid) karya **Syaikh Muhyiddin Ibn Arabi** (Halaman 39–61).

Mengingat dokumen ini cukup panjang (64 halaman), saya akan menerjemahkan **Daftar Isi (Fihrist)** terlebih dahulu agar Anda bisa melihat peta pembahasannya, lalu saya bisa menerjemahkan bab spesifik yang Anda inginkan secara detail.

### **I. Ringkasan Isi Kitab (Berdasarkan Fihrist)**

#### **A. Risalah Al-Laduniyyah (Imam Al-Ghazali)**

Kitab ini membahas epistemologi (sumber ilmu) dalam Islam, khususnya ilmu yang langsung dari Allah (Ladunni).

**Mukadimah:** Pembukaan tentang kemuliaan ilmu.

**Hakikat Ilmu:** Bahwa ilmu adalah gambaran jiwa rasional (An-Nafs An-Nathiqah).

**Anatomi Jiwa & Ruh:** Penjelasan tentang Jiwa (Nafs) dan Ruh Manusia. 

**Klasifikasi Ilmu:** Pembagian jenis-jenis ilmu (Syar'i, Aqli, dll).

* **Metode Memperoleh Ilmu:**

* Belajar (Ta'allum) vs. Tafakur.

**Wahyu & Ilham:** Perbedaan antara Wahyu (untuk Nabi) dan Ilham (untuk Wali).

**Tingkatan Jiwa:** Level-level jiwa dalam menerima ilmu.

**Hakikat Ilmu Ladunni:** Definisi inti dan sebab-sebab memperolehnya.

#### **B. Risalah Lil-Murid (Ibn Arabi)**

Kitab ini adalah panduan praktis (adab) bagi seorang *Salik* (penempuh jalan spiritual) atau Murid.

**Kewajiban Awal:** Tauhid dan Iman kepada Rasul.

* **Adab Batin & Sosial:**

* Berprasangka baik (Husnuzan) kepada semua manusia.

* Diam (Shamt) kecuali untuk dzikir.

* Mencari Saudara sejalan & Guru Mursyid.

* **Adab Harian:**

* Sedikit makan & membagi waktu ibadah.

* Muhasabah (introspeksi) & menjaga waktu.

* Selalu dalam keadaan suci (Wudhu).

* **Akhlak:**

* Mencari kemuliaan akhlak & menahan amarah (Kadzm al-Ghaizh).

* Ihsan sebagai tanda rasa malu kepada Allah.

* **Pembersihan Hati:**

* Lazim beristighfar & melepas ikatan dosa (Israr).

* Tentang Takwa, Wara', dan Zuhud.

### **II. Contoh Terjemahan Penting (Definisi Ilmu Ladunni)**

Untuk memberi gambaran isinya, berikut saya terjemahkan bagian inti dari **Imam Al-Ghazali** mengenai definisi Ilmu Ladunni (Halaman 28-29):

> **Teks Asli:**

> "Wal 'ilmu al-ladunniy huwa alladzi laa wasithata fi husulihi baynan nafsi wa baynal bari...".

> **Terjemahan:**

> "Adapun **Ilmu Ladunni** adalah ilmu yang tidak ada perantara dalam perolehannya antara Jiwa dan Sang Pencipta (Al-Bari). Ia hanyalah seperti cahaya dari pelita alam gaib yang jatuh ke atas hati yang bersih, kosong, lagi lembut.

> Hal itu karena semua ilmu pada dasarnya sudah tertanam dalam substansi Jiwa Universal Pertama (An-Nafs Al-Kulliyah Al-Ula)... Wahyu adalah perhiasan para Nabi, sedangkan Ilham adalah hiasan para Wali."

Berikut adalah terjemahan dan rangkuman dari **Bagian Praktik** dalam kitab *Risalah fi Kunhi Ma La Budda lil-Murid Minhu* karya **Syaikh Muhyiddin Ibn Arabi** (mulai halaman 39 hingga akhir).

Bagian ini berisi panduan konkret tentang bagaimana seorang *murid* (pencari jalan Allah) harus menjalani kesehariannya, mulai dari adab sosial, manajemen waktu ibadah, hingga disiplin batin.

### **PANDUAN PRAKTIS BAGI SEORANG MURID**

**(Terjemahan Intisari dari Kitab Ibn Arabi)**

#### **1. Adab Sosial & Kemandirian Hidup**

Syaikh Ibn Arabi menekankan kemandirian ekonomi dan menjaga lisan sebagai fondasi awal.

* **Jangan Menjadi Beban:**

"Hal yang tidak boleh tidak (harus dilakukan): Engkau harus mengangkat bebanmu dari pundak makhluk. Jangan memberatkan siapa pun, dan jangan menerima pemberian orang kecuali untuk dirimu (jika darurat) atau untuk orang lain."

* **Bekerja & Wara’ (Kehati-hatian):**

"Bekerjalah (miliki profesi) dan berhati-hatilah (wara') dalam setiap usahamu, ucapanmu, pandanganmu, serta seluruh gerak dan diammu."

* **Menjaga Diam (Ash-Shamt):**

"Hendaklah engkau diam, kecuali untuk berdzikir kepada Allah, membaca Al-Qur'an, menunjuki orang yang tersesat, memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran, atau mendamaikan orang yang berselisih."

* **Mencari Guru & Teman:**

Engkau harus mencari seorang Syaikh (Guru) yang membimbing (Mursyid) dan teman yang mendukungmu di jalan ini. Hindari bergaul dengan lawan (orang yang menentang jalan ini).

#### **2. Disiplin Tubuh & Makanan**

* **Sedikit Makan:**

Kurangi makan, karena sedikit makan mewariskan semangat untuk beribadah dan menghilangkan rasa malas.

* **Tidur & Pakaian:**

Jangan tidur kecuali karena kantuk yang sangat berat (ghalabah), jangan makan kecuali karena butuh, dan jangan berpakaian kecuali untuk melindungi diri dari panas/dingin atau menutup aurat.

#### **3. Jadwal Ibadah Harian (Wirid)**

Ibn Arabi memberikan jadwal spesifik untuk mengisi waktu agar tidak terbuang sia-sia:

* **Pagi Hari (Ba'da Subuh):**

"Jangan tinggalkan tempat shalatmu (sajadah) setelah shalat Subuh hingga matahari terbit. Berdzikirlah kepada Allah dengan kehadiran hati (hudhur) dan khusyuk."

* **Siang Hari (Antara Zhuhur & Ashar):**

Jangan lewatkan untuk berdiri di hadapan Allah (shalat sunnah/ibadah) di waktu antara Zhuhur hingga Ashar.

* **Malam Hari (Antara Maghrib & Isya):**

Hidupkan waktu antara Maghrib dan Isya dengan shalat 20 rakaat.

* **Shalat Witir:**

Jadikan shalat Witirmu sebanyak 13 rakaat.

* **Tilawah Al-Qur'an:**

"Jadikan untuk dirimu wirid (rutinitas) membaca Al-Qur'an." Caranya: Letakkan Mushaf di pangkuanmu, letakkan tangan kiri di atas Mushaf, dan telusuri huruf-hurufnya dengan tangan kananmu sambil melihatnya. Angkat suaramu sekadar terdengar oleh dirimu sendiri, dan bacalah dengan tartil.

* *Teknik Tadabbur:* Jika membaca ayat azab, berhentilah dan berlindunglah kepada Allah. Jika membaca sifat orang mukmin, periksa dirimu apakah sifat itu ada padamu. Jika membaca sifat orang munafik, periksa apakah sifat itu ada padamu.

#### **4. Manajemen Hati & Muhasabah (Introspeksi)**

Ini adalah bagian terpenting dari praktik tasawuf menurut Ibn Arabi:

* **Mencatat Amal & Pikiran:**

"Hal yang harus dilakukan: Engkau harus menghisab (menghitung) dirimu dan mengawasi lintasan hatimu setiap waktu... Kami memiliki seorang Guru yang mencatat gerak-geriknya di sebuah buku pada siang hari. Ketika sore tiba, ia meletakkan buku itu di hadapannya dan menghisab dirinya."

Ibn Arabi menambahkan: "Aku bahkan melampaui Guruku itu dengan **mencatat lintasan hati/pikiran (khawatir)**."

* **Menahan Amarah (Kadzm al-Ghaizh):**

"Setiap kali syariat menyuruhmu boleh membalas, pilihlah untuk memaafkan. Dan setiap kali syariat menyuruhmu marah (karena Allah), maka marahlah. Jika engkau menahan amarahmu (pada hak pribadimu), engkau membuat setan murka dan menyenangkan Ar-Rahman."

* **Selalu Suci (Wudhu):**

Biasakan duduk dalam keadaan suci. Setiap kali batal (berhadas), segera berwudhu. Setiap kali berwudhu, shalatlah dua rakaat (Syukrul Wudhu).

#### **5. Penutup: Zuhud & Tawakkal**

* **Menghindari Pintu Penguasa:**

Jangan mendekati pintu para penguasa (Sultan) dan jangan berteman dengan orang-orang yang berlomba mengejar dunia, karena mereka akan memalingkan hatimu dari Allah.

* **Berinfak dalam Sempit & Lapang:**

"Nafkahkanlah hartamu baik dalam keadaan senang maupun susah... Orang bakhil itu pengecut, setan membisikkan kemiskinan kepadanya."

* **Zuhud:**

Hilangkan keinginan terhadap dunia dari hatimu. Jika engkau harus mengambil dunia, ambil sekadar untuk kekuatan ibadah dari jalan yang halal.

### **Kutipan Kunci untuk Renungan**

> *"Ketahuilah wahai kekasihku, bahwa setiap orang yang meninggalkan akhlak mulia, sesungguhnya ia meninggalkannya karena akhlak yang buruk."*

> *"Jika engkau selesai melakukan suatu amal yang disyariatkan, jangan berbicara pada dirimu sendiri bahwa engkau akan hidup setelah ini untuk melakukan amal lain. Jadikanlah amal itu sebagai amal terakhirmu di dunia yang dengannya engkau akan menemui Tuhanmu."*

Apakah Anda ingin saya mendetailkan bagian tertentu, misalnya tentang **"Teknik Muhasabah"** atau **"Cara Membaca Al-Qur'an"** yang disebutkan di atas?

Berikut adalah rangkuman dan terjemahan poin-poin penting dari kitab Ar-Risalah Al-Laduniyyah karya Imam Al-Ghazali (halaman 1–38 dalam dokumen Anda).

Kitab ini adalah karya filosofis-sufistik yang menjelaskan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan, membedakan antara ilmu hasil belajar formal (ta'allum) dengan ilmu yang dianugerahkan langsung oleh Allah (ladunni).



INTISARI AR-RISALAH AL-LADUNIYYAH


1. Hakikat Ilmu & Jiwa Manusia

Imam Al-Ghazali memulai dengan mendefinisikan ilmu dan tempatnya bernaung, yaitu Jiwa (An-Nafs).

Definisi Ilmu:
"Ilmu adalah tergambarnya hakikat-hakikat segala sesuatu pada Jiwa Rasional (An-Nafs An-Nathiqah) yang tenang, bersih dari materi fisik." 

Tentang Jiwa (An-Nafs):
Tubuh manusia hanyalah wadah yang gelap dan kasar, sedangkan Jiwa adalah substansi tunggal (jauhar) yang bercahaya dan mampu mengetahui.

Para filosof menyebutnya Nafs Nathiqah.


Al-Qur'an menyebutnya Nafs Muthmainnah.


Kaum Sufi menyebutnya Qalb (Hati).
Meskipun namanya berbeda, hakikatnya satu. 2Jiwa ini tidak mati dengan matinya badan; ia hanya berpisah dan kembali ke asalnya. 


2. Pembagian Ilmu (Klasifikasi)

Al-Ghazali membagi ilmu menjadi dua kategori besar:


A. Ilmu Syar'i (Keagamaan):

Diperoleh dari para Nabi. Terbagi menjadi:

Ushul (Pokok): Tauhid, Tafsir, Ilmu Hadis.

Furu' (Cabang): Fiqih (Ibadah & Muamalah), Akhlak (Ilmu tentang hati). 


B. Ilmu Aqli (Rasional):

Diperoleh melalui akal dan pemikiran. Terbagi menjadi 3 tingkatan:

Tingkat Pertama (Matematika & Logika): Aritmatika, Geometri, Astronomi, Musik, Logika (Mantiq). 

Tingkat Pertengahan (Fisika/Tabi'iyyat): Ilmu tentang tubuh, kedokteran, kimia, mineral. 

Tingkat Tertinggi (Metafisika/Ilahiyyat): Ilmu tentang Dzat Allah, sifat-sifat-Nya, Malaikat, dan hal-hal gaib. Ini adalah puncak ilmu aqli. 



3. Metode Memperoleh Ilmu: Ta'allum vs Ladunni

Ini adalah inti dari kitab ini. Al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu bisa masuk ke dalam jiwa melalui dua jalan utama:

Jalan 1: Ta'allum Insani (Belajar Manusiawi)

Yaitu memperoleh ilmu melalui perantara (guru) atau belajar dari luar.  Juga bisa melalui Tafakkur (berpikir), yaitu "belajar dari dalam diri sendiri" dengan mengolah ilmu yang sudah ada untuk menghasilkan ilmu baru. 

Jalan 2: Ta'allum Rabbani (Pengajaran Tuhan)

Ilmu yang didapat langsung dari Allah tanpa belajar formal. Ini terbagi dua:
Wahyu: Khusus untuk para Nabi. Ini adalah tingkatan tertinggi di mana hijab terangkat sempurna. 
Ilham: Khusus untuk para Wali dan orang-orang suci. Cahaya yang jatuh ke hati yang bersih. 




4. Definisi Ilmu Ladunni

Al-Ghazali memberikan definisi spesifik tentang ilmu ini:

"Ilmu Ladunni adalah ilmu yang tidak ada perantara dalam perolehannya antara Jiwa dan Sang Pencipta. Ia hanyalah seperti cahaya dari pelita alam gaib yang jatuh ke atas hati yang bersih, kosong, lagi lembut." 

Beliau mencontohkan Nabi Khidir a.s. sebagai pemilik ilmu ini, sebagaimana firman Allah: "Dan Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami (Ilman Ladunniya)." 



5. Syarat Memperoleh Ilmu Ladunni

Di akhir risalah, Al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu ini tidak datang begitu saja tanpa usaha. Ada tiga langkah untuk mempersiapkan jiwa menerimanya:


Menguasai Dasar Ilmu: Seseorang harus sudah menuntut ilmu-ilmu dasar dan mengambil bagian yang cukup darinya. 


Riyadah & Muraqabah: Latihan spiritual yang benar (mujahadah) dan pengawasan hati yang konsisten (muraqabah) untuk membersihkan hati dari kotoran duniawi. 


Tafakkur (Berpikir): Setelah berilmu dan berlatih (riyadah), jiwa harus merenung. Jiwa yang berpikir dengan benar akan membuka pintu ke alam gaib. 


"Barangsiapa mengamalkan apa yang ia ketahui, Allah akan mewariskan kepadanya ilmu tentang apa yang belum ia ketahui." (Hadis yang dikutip Al-Ghazali) 



Kesimpulan untuk Pembaca Modern

Kitab ini mengajarkan bahwa rasionalitas (akal) dan spiritualitas (hati) bukanlah musuh. Untuk mencapai puncak pengetahuan (Ma'rifatullah), seseorang harus memaksimalkan potensi akalnya dengan belajar, lalu membersihkan hatinya agar siap menerima "pancaran" pemahaman langsung dari Tuhan (Ilham/Ladunni).
Amalan dari Abah Guru Sekumpul supaya dapat Ilmu Laduni 
1 kali
Allāhumma ṣalli wa sallim ‘alā sayyidinā umiyyi Muḥammad, wa ‘alā āli sayyidinā umiyyi Muḥammad, fī kulli lamḥatin wa nafasin, bi ‘adadi kulli ma‘lūmin laka.  [semampu nya, sebanyak banyaknya bisa]


bc1pfupf6h2vm8nl80xldaeheddhgvfs7lnkwu0zwe93mdwlggkcd04q6tdj6n



Tidak ada komentar:

Posting Komentar